Jakarta – Pada Jumat (5/12/2025), siswa sekolah dan mahasiswa di Jerman memilih meninggalkan kelas untuk bergabung dalam aksi demonstrasi menolak rencana pemerintah terkait reformasi wajib militer. Aksi ini digelar serentak di 90 kota di seluruh negeri, dengan Berlin menjadi salah satu pusat protes di mana sekitar 800 orang berkumpul menentang kewajiban tes kesehatan bagi pemuda laki-laki berusia 18 tahun.
Seorang inisiator aksi menjelaskan, “Politikus dan militer Jerman (Bundeswehr) memutuskan bagaimana wajib militer harus diterapkan, tetapi mereka tidak pernah bertanya kepada kami apa yang kami inginkan.”
1. Siswa menolak tes kesehatan wajib
Sejumlah siswa SMA yang ikut protes menolak rencana tes kesehatan wajib ketika memasuki usia 18 tahun. Martin, remaja 16 tahun, menyatakan keprihatinannya terhadap sejarah kekerasan:
“Kenapa kita harus menghadapi perang dengan mempersenjatai diri? Ini hanya akan mengulang kesalahan yang sama seperti Perang Dunia I dan II. Saya lebih memilih mengikuti latihan yang bermanfaat untuk menyelamatkan orang, bukan melatih cara membunuh,” ujarnya, dikutip dari Politico.
Siswa lain, Nils (17), menekankan bahwa dirinya tidak menentang siswa yang ingin bergabung militer, namun wajibnya latihan militer bagi semua pemuda membuatnya ikut turun ke jalan.
2. Pemerintah perbolehkan pelajar berdemonstrasi
Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menegaskan bahwa siswa sekolah diperbolehkan berpartisipasi dalam demonstrasi sebagai bentuk kebebasan berpendapat.
“Jika kita ingin mempertahankan kehidupan seperti sekarang di masa depan, demokrasi harus dijaga oleh rakyat, bukan otomatis dijaga oleh negara. Partisipasi masyarakat adalah kunci, seperti yang dilakukan di masa lalu,” ujar Pistorius.
Meski demikian, Parlemen Jerman tetap menyetujui rencana pemerintah untuk mewajibkan tes kesehatan bagi laki-laki berusia 18 tahun sebagai bagian dari upaya meningkatkan rekrutmen militer, terutama untuk menghadapi potensi ancaman dari Rusia.
3. Rencana pertahanan besar Jerman hadapi ancaman Rusia
Jerman juga mengumumkan rencana pertahanan besar yang diberi nama Operational Plan Germany (OPLAN DEU), melibatkan 800 ribu tentara NATO di wilayah Jerman. Menurut laporan Euronews, strategi ini menggabungkan pendekatan militer dan sipil, menyerupai strategi era Perang Dingin namun disesuaikan dengan tantangan saat ini.
Namun, rencana ini menghadapi kendala signifikan, termasuk infrastruktur militer yang belum modern serta koordinasi yang lemah antara militer dan badan sipil pemerintah.
Sumber : okezone88.id








