Pttogel — Julukan ‘Kampung Zombie’ di kawasan Cililitan, Jakarta Timur, bukanlah sekadar istilah hiperbolis. Nama itu menggambarkan pemandangan nyaris sureal yang terhampar di bantaran sungai: deretan rumah yang bagian atasnya tampak hidup dengan aktivitas penghuni, sementara lantai dasarnya mati—kosong, gelap, dan dipenuhi lumpur serta sisa-sisa banjir yang seolah tak pernah surut sepenuhnya.
Kehidupan di sana berjalan layaknya makhluk yang bangkit dari genangan. Para penghuni menjalani rutinitas harian di lantai dua atau tiga rumah mereka, sementara lantai dasar dibiarkan terbengkalai, termakan endapan tanah dan air. Kawasan ini telah lama berdamai dengan banjir kiriman, dan dari situlah identitas ‘zombie’ yang melekat itu lahir.
Kontras yang Menyolok di Tengah Permukiman
Kesan kontras langsung terasa saat memasuki kampung ini. Beberapa rumah tampak ditinggikan hingga beberapa meter, sebuah persiapan fisik untuk menghadapi banjir berikutnya. Berdampingan dengannya, bangunan-bangunan lama terlihat tenggelam, lebih rendah, dan rapuh. Di banyak titik, fungsi lantai dasar telah berubah total; bukan lagi ruang keluarga, melainkan ruang lumpur yang diam.
Alasan Bertahan di Tengah Risiko
Di tengah kondisi seperti itulah Yudi (50), seorang pedagang bakso cuanki asal Cikarang, bertahan. Sudah lebih dari setahun ia mengontrak rumah di Kampung Zombie bersama anaknya. Alasannya klasik dan sederhana: harga sewa yang terjangkau.
“Kalau di sini ada yang Rp300 ribu sampai Rp600 ribu per bulan. Saya sendiri Rp400 ribu,” ujar Yudi.
Namun, harga murah itu datang seiring dengan risiko dan ketidaknyamanan. Kontrakan dengan tarif rendah biasanya memiliki fasilitas kamar mandi di luar, yang digunakan secara bersama oleh lima hingga enam keluarga.
“Kalau yang Rp300 ribu sampai Rp400 ribu itu kamar mandinya di luar, jadi kalau mandi harus antre. Yang Rp600 ribu sampai Rp1,2 juta baru kamar mandinya di dalam,” tuturnya menjelaskan stratifikasi harga berdasarkan fasilitas.
Harapan dan Realita di Ibu Kota
Yudi memutuskan pindah ke Cililitan atas saran sesama pedagang, dengan harapan Jakarta menjanjikan omzet yang lebih besar. Namun, realitas yang ia temui tidak sepenuhnya seindah cerita.
“Penghasilan enggak jauh beda sama di Cikarang. Bedanya, di sini harus siap banjir,” ucapnya dengan suara lirih, mengakui bahwa tantangan hidup di ibu kota ternyata lebih kompleks dari yang dibayangkan.
Kondisi lingkungan Kampung Zombie juga membebani sistem pengelolaan sampah di sekitarnya. Volume sampah sisa banjir yang menumpuk di TPS Perintis Kemerdekaan terus bertambah setiap harinya, memaksa Pemerintah Kota Jakarta Timur untuk mengerahkan puluhan truk pengangkut secara rutin ke Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang.






