EPICTOTO — Presiden Prabowo Subianto memberikan persetujuan untuk menyalurkan 125.000 potong pakaian reject atau gagal ekspor sebagai bantuan bagi korban terdampak banjir di sejumlah wilayah Sumatra. Pakaian yang masih layak pakai ini berasal dari pabrik garmen di dalam negeri.
Usulan dari Mendagri Tito Karnavian
Inisiatif ini diawali oleh usulan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian. Dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Tito mengusulkan pemberian izin khusus bagi sektor swasta untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan dalam situasi krisis bencana.
Tito menjelaskan bahwa sejumlah perusahaan garmen besar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) telah menyatakan kesediaannya. Dari dua perusahaan yang telah berkoordinasi, terkumpul sekitar 100 ribu dan 25 ribu potong pakaian.
“Kami mohon dukungan dari Bapak Menteri Keuangan dan juga Bapak Menteri Perdagangan ini supaya bisa dikirimkan secepat mungkin 125 ribu pakaian ini,” ujar Tito.
Respons Cepat dan Pembebasan Pajak
Presiden Prabowo langsung merespons positif usulan tersebut. Beliau menyetujui pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas bantuan pakaian gagal ekspor tersebut dan memerintahkan agar distribusi segera dilakukan.
“Saya kira bagus itu. Dan ya, silakan dibebaskan dari PPN, tapi juga diwaspadai (agar) harus diserahkan kepada instansi, (dalam hal ini) Kementerian Dalam Negeri yang menerima dan bertanggung jawab. Dan harus segera dikirim ke daerah bencana,” tutur Prabowo.
Penambahan Anggaran Belanja Tidak Terduga
Selain bantuan barang, Tito juga menyampaikan bahwa pemerintah telah menambah alokasi Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp 268 miliar untuk penanganan daerah terdampak bencana.
Rinciannya adalah Rp 60 miliar untuk tiga provinsi dan Rp 208 miliar untuk 52 kabupaten dan kota. Dana ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan individual masyarakat yang terdampak.
Prioritas Kebutuhan Korban
Pemerintah daerah telah diberi arahan untuk memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar individu. Kebutuhan tersebut meliputi pakaian, sabun, sampo, kebutuhan khusus perempuan, serta perlengkapan bayi.
“Yang seperti dari pusat memang banyak membantu yang pokok, beras, minyak goreng, dan lain-lain. Tapi yang kecil-kecil seperti pakaian, sabun, sampo, keperluan wanita, keperluan bayi, dan itu yang kami arahkan kepada mereka untuk utamanya itu Pak,” jelas Tito Karnavian.
Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban korban bencana sekaligus memberikan solusi atas barang yang tidak dapat diekspor namun masih memiliki nilai guna.






